Fenomena Surat Cinta Santri (Bagaikan Karya Sastrawan Ternama)

Ilustrasi Fenomena Surat Cinta Santri (Sumber: Dok. Instagram @auniazulfa)

Kehidupan di lingkungan pesantren memiliki kesan istimewa bagi setiap santri yang bermukim di dalamnya. Terlepas dari minimnya fasilitas santri yang  diberikan seperti keterbatasan dalam mengakses internet maupun informasi yang sudah sangat lumrah digunakan oleh masyarakat secara umum, santri memiliki cara yang unik untuk berkomunikasi dengan pujaan hatinya.

Batasan santri dengan lawan jenis pun dapat dikatakan jauh namun dekat, atau tidak di antara keduanya. Artinya, mereka tak jarang untuk bertemu, namun tidak dapat  berkomunikasi secara intens. Hal tersebut seringkali menjadi faktor pendukung santri untuk memiliki rasa hingga jatuh cinta terhadap lawan jenis yang didambakan dalam sebuah pertemuan singkat yang terkesan “istimewa” bagi mereka. Oleh karena itu, menjadi hal yang lumrah bagi santri untuk menulis surat cinta yang terkesan klasik dan kuno menurut sebagian khalayak. Isi dalam surat tersebut seringkali memiliki keindahan bahasa bagaikan karya seorang sastrawan ternama.

Dalam ilmu psikologi, cinta adalah seperangkat keadaan emosional dan mental yang kompleks sehingga mempengaruhi cara berpikir, perasaan, dan tingkah laku seseorang. Salah satu komponen cinta ialah komponen keintiman berupa perasaan ingin selalu dekat, ingin selalu berhubungan, dan membentuk ikatan dengan orang yang dicintai. Dalam komponen ini, ada keinginan untuk selalu memberi perhatian pada orang yang dicintai.

Begitupun keadaan otak kita ketika sedang jatuh cinta, zat kimia saraf seperti dopamin (hormon kebahagiaan) dan oksitosin (hormon cinta) yang dapat menguasai kinerja otak. Inilah yang menyebabkan surat cinta santri yang begitu puitis.

Islam sangat mengatur sedemikian rupa untuk setiap kehidupan manusia yang menjadi fitrah baginya. Termasuk urusan cinta terhadap lawan jenis yang menjadikan santri bak pujangga sastra.

 Allah berfirman dalam Q.S ali-Imran ayat 14,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ ١٤

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Dalam Tafsir Muyassar disebutkan bahwa dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap hawa nafsu kepada kaum wanita, anak-anak dan harta yang banyak berupa emas dan perak, kuda-kuda yang bagus, binatang ternak, unta, sapi, dan kambing. Tanah yang disiapkan juga untuk bercocok tanam. Semua itu adalah perhiasan kehidupan dunia yang fana, sementara di sisi Allah tersedia tempat kembali dan pahala yang baik, yaitu surga.

Fenomena surat cinta santri telah banyak dilalui oleh sebagian besar santri karena pengaruh rasa cinta serta hormon kebahagiaan yang direspon oleh otak sehingga menghasilkan karangan puitis berupa surat cinta. Islam telah mengatur semua yang terjadi dalam kehidupan melalui Al-Qur’an sebagai pedoman hidup seluruh umat.

Penulis: Nisa’ul Izza
Editor: Suciyadi Ramdhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *